Minggu, 29 Mei 2016

JIWA YANG SADAR

Jiwa yang sadar itu ialah diri ini menyaksikan, baik yang di luar atau pun yang di dalam.

Menyaksikan yang di luar atau yang dzhohir kita memahami nya, yaitu dengan segala indera jasad. Melihat dengan mata, mendengar dengan telinga dan merasakan dengan indera perasa.

Bagaimana menyaksikan yang di dalam diri atau yang bathin? Padahal semuanya nya serba ghoib.

Ilham, nafsu, ego, pikiran dan segala bisikan hati itu adalah ghoib. Dan hanya bisa di saksikan oleh yang ghoib pula, Jangan pakai jasad/raga.

Unsur diri kita ini ada 2.. dan berbagai macam istilah.
Ada jiwa.. ada raga..
Ada batin.. ada dzohir..
Ada rohani.. ada jasmani..

Jadi jangan di campur aduk, roh dan rohani itu berbeda. Jangan samakan roh dengan diri. Roh itu lain lagi cerita nya.. dan yang kita bahas sekarang ialah diri.

Diri kita yang ghoib itu ialah sering di sebut dengan jiwa/nafs, bathin, atau rohani. Biar lebih gampang.. kita ikuti saja Al quran. Karna pada Al quran itu diri sering di sebutkan jiwa/nafs.

Nah, sangat penting lah kita mengenal diri ini. Setelah mengenal jiwa/nafs maka kita bisa memahami  segala yang ghoib. itulah jiwa yang sadar/hidup.

Ketika jiwa ini sadar.. kita bisa menyaksikan segala yang ghoib pada diri. contoh nya nafsu, apakah orang yang di bisiki nafsu itu memahami ketika ia mengikuti nafsu? Jika jiwa belum sadar ia tidak akan memahami nya, bahkan terus di perbudak nafsu.

Berbeda bagi orang yang jiwa telah sadar/hidup/terjaga. Ketika di bisiki nafsu ia bisa mendengar dengan jelas. Dan ia menyaksikan itu. Sehingga terhindarlah dari dosa-dosa.

Contoh,
-ketika adzan berkumandang, cepat-cepat nafsu membisikan, "ntar lagi aja sholat nya, waktu nya kan masih lama.. mending nonton aja, film nya lagi seru nih. " akhirnya sholat nya keluapaan.

-ketika anak melawan, ego pun membisikkan, "masa kamu di gituin oleh anak mu? Seharusnya ia sopan pada orang tua..! ego sebagai orang tua pun terpancing dan tidak menerima diri di remehkan anak. Akhirnya kita pun emosi dan memukul anak.

-ketika di nasehati, ego pun membisikkan, "masa kamu di nasehati oleh anak kemarin sore? Kamu itu sudah benar, seharusnya mereka yang mendengarkan kata-kata mu." Akhirnya kita pun tidak mau mengalah dan merasa paling benar.

-ketika bersedekah, nafsu pun membisikkan, "masa' sedekah mu sedikit, Apa kata orang? Sedekah yang banyak biar kamu di bilang dermawan". Akhirnya kita pun bersedekah yang banyak bukan karna Allah, tetapi karna malu di bilang pelit. Biarlah tekor, asal kesohor. Hehe..

-ketika hendak melakukan suatu kebaikan, pikiran pun berbisik. "Nanti begini.. nanti begitu.. akhirnya kita menimbang-nimbang dan ragu dalam bertindak.

Itulah segala bisikan hati, syetan-syetan di dalam diri. Bagaimana kita bisa mendengar jika jiwa ini belum sadar? Jika jiwa telah sadar, akan sangat jelas kita mendengar ketika mereka berbisik.

Jiwa yang mati/lalai adalah jiwa yang belum merdeka. Jasad ini akan terus di perbudak nafsu. Jadilah kita bangkai yang berjalan.

Istiqomahlah berdzikir nafas, perdalami DN. karna dalam DN kita berlatih mengenal diri, mengaktifkan jiwa yang SADAR. jika jiwa telah SADAR, kita akan pahami segala bisikan-bisikan hati.sehingga terhindar lah kita dari segala keburukan dan dosa.

ALLAH itu maha ghoib dan hanya bisa di temui bagi yang ghoib pula. Dan ilham-ilham Allah itu di turunkan pada jiwa. Jadi senantiasa lah SADAR ALLAH, sehingga kita bisa membedakan mana kehendak dari diri ku, dan mana kehendak-kehendak dari ALLAH..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar