JANGAN TERLALU KAKU
Dalam beragama itu jangan terlalu kaku. Jangan sampai gila beragama, tetapi lupa bertuhan..!
Jujur saja.. saya dahulu juga kaku..! hehe..
ketika saya mendalami dzikir nafas. dan merasakan itu adalah jalan tol yang instan dalam mendekatkan diri kepada Allah. sehingga sering juga saya remehkan jalan-jalan yang lain.
Seolah jalan lain itu salah, lambat, tidak instan. tanpa sadar, saya telah membanggakan jalan yang saya tempuh.
seiring berjalan nya waktu, semakin lah saya dewasa. jika benar makrifat, pastilah tiada lagi melihat perbedaan. tiada lagi melihat kiri-kanan. terus lah sibuk pada jalan yang kita tempuh.
Pandang lah Satu pada yang banyak. jika memandang yang banyak, pasti lah selalu berbeda. dan pasti selalu berseberangan. akhirnya gila beragama, tetapi lupa bertuhan.
Jika benar-benar kita bertuhan pada yang satu (Esa).. pasti lah kita kan melihat wujud Esa pada setiap insan. dan pasti rukun dan damai.. tiada lagi perbedaan.
Agama itu juga jalan untuk mendekat kan diri kepada Tuhan yang maha Esa. jadi waspada lah.. yang kita pertuhankan itu agama atau kah yang maha Esa?
Selasa, 26 Desember 2017
PEJALAN SEJATI
PEJALAN SEJATI
Sibuk kan lah diri mu, untuk mempelajari diri. Jangan sibuk mengurusi orang lain.. Itu tiada manfaat bagi diri mu.
Kau hanya melihat kelemahan dan kesalahan orang lain. Tetapi lupa memperbaiki diri mu sendiri. Habis lah waktu mu terbuang sia-sia..!
Jika ingin berbagi, bercerita, menulis.. kisah kan lah cerita diri mu, pengalaman hidup mu. Karna pengalaman adalah pemandangan dalam perjalanan. Tentu itu lebih real, penyaksian diri. Bukan sekedar mendengar dari sana-sini..
Jika kita sudah bicara pengalaman, siapa lagi yang bisa membantah? Siapa lagi yang bisa memungkiri..? toh itu pengalaman diri ku koq!
Alami lah sendiri, baru kita kan mengetahui..!
Tiada yang dapat membantah, jika itu pengalaman diri. Karna pengalaman, itulah penyaksian diri.
Mau marah.. mau tersinggung..? Jangan sewot kawan.. yang ku bicarakan ini pengalaman diri ku, bukan menceritakan kamu..! Hehe..
Sibuk lah pada diri mu sendiri, jangan sibuk mengurusi orang lain..
Sibuk kan lah diri mu, untuk mempelajari diri. Jangan sibuk mengurusi orang lain.. Itu tiada manfaat bagi diri mu.
Kau hanya melihat kelemahan dan kesalahan orang lain. Tetapi lupa memperbaiki diri mu sendiri. Habis lah waktu mu terbuang sia-sia..!
Jika ingin berbagi, bercerita, menulis.. kisah kan lah cerita diri mu, pengalaman hidup mu. Karna pengalaman adalah pemandangan dalam perjalanan. Tentu itu lebih real, penyaksian diri. Bukan sekedar mendengar dari sana-sini..
Jika kita sudah bicara pengalaman, siapa lagi yang bisa membantah? Siapa lagi yang bisa memungkiri..? toh itu pengalaman diri ku koq!
Alami lah sendiri, baru kita kan mengetahui..!
Tiada yang dapat membantah, jika itu pengalaman diri. Karna pengalaman, itulah penyaksian diri.
Mau marah.. mau tersinggung..? Jangan sewot kawan.. yang ku bicarakan ini pengalaman diri ku, bukan menceritakan kamu..! Hehe..
Sibuk lah pada diri mu sendiri, jangan sibuk mengurusi orang lain..
BAHASA MAKRIFAT
BAHASA MAKRIFAT
Bahasa seorang makrifat itu memang lah suka terbalik-balik dengan kepahaman syariat. Dan kita haruslah lebih hati-hati dalam penyampaian. Jika tiada kesabaran dalam menjelaskan makna nya, ya lebih baik diam.. jangan membuat orang lain bingung!
Contoh,
Dari pandangan syariat, orang kan berkata.. " Belajar itu, agar kita menjadi pintar..!"
Sedangkan dari pandangan hakikat, orang kan berkata.. " Belajar itu, agar menjadi bodoh..!"
Walau berbeda dalam kata dan arti, tetapi syariat dan hakikat itu bukan lah bertentangan. Tetapi mempunyai makna yang benar pada pandangan masing-masing.
Yang menjadi masalah itu adalah, kita nya yang tidak memahami, atau tidak mau menjelaskan secara detail agar orang lain memahaminya.
Pandangan syariat:
Semakin banyak belajar akan menjadi pintar, itu benar. Otomatis orang yang banyak belajar pastilah akan semakin banyak ilmunya, dan otomatis kan menjadi pintar.
Pandangan hakikat:
Semakin banyak belajar akan menjadi bodoh, ini juga benar.. tiada yang salah. Karna ketika kita menyadari bahwa hakikat ilmu itu datang nya darimana, pasti kita kan merasa bodoh. Tak kan berani mengaku pintar.
Yang sering menjadi kecelakaan bagi kita ialah, karna kita berbicara hakikat kepada orang yang tidak tepat. Tentu ini kan bertentangan dan akan menjadi fitnah.
Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual kita, pasti lah semakin dalam makna kata dan bahasa, tidak mungkin semua orang kan mengerti. Jadi, jangan lah di pukul rata.. tentu tidak semua orang kan mengerti. Justru itu sangat berbahaya jika orang awam jadi salah tafsir dan pengertian. Kita jadi menyesatkan orang lain tanpa kita sadari.
Jadi, mari kita intropeksi diri..
Jika tulisan dan penyampaian kita sering di tentang oleh orang lain, bisa jadi karna beberapa penyebab..! Jika karna mereka tak mengerti.. atau juga karna kita menyampaikan itu tanggung-tanggung, tak mau menjelaskan sampai mereka memahami.
Jika kesadaran kita makin tinggi.. ya bijak-bijak lah dalam penyampaian, jangan pakai bahasa tinggi..!
Bahasa seorang makrifat itu memang lah suka terbalik-balik dengan kepahaman syariat. Dan kita haruslah lebih hati-hati dalam penyampaian. Jika tiada kesabaran dalam menjelaskan makna nya, ya lebih baik diam.. jangan membuat orang lain bingung!
Contoh,
Dari pandangan syariat, orang kan berkata.. " Belajar itu, agar kita menjadi pintar..!"
Sedangkan dari pandangan hakikat, orang kan berkata.. " Belajar itu, agar menjadi bodoh..!"
Walau berbeda dalam kata dan arti, tetapi syariat dan hakikat itu bukan lah bertentangan. Tetapi mempunyai makna yang benar pada pandangan masing-masing.
Yang menjadi masalah itu adalah, kita nya yang tidak memahami, atau tidak mau menjelaskan secara detail agar orang lain memahaminya.
Pandangan syariat:
Semakin banyak belajar akan menjadi pintar, itu benar. Otomatis orang yang banyak belajar pastilah akan semakin banyak ilmunya, dan otomatis kan menjadi pintar.
Pandangan hakikat:
Semakin banyak belajar akan menjadi bodoh, ini juga benar.. tiada yang salah. Karna ketika kita menyadari bahwa hakikat ilmu itu datang nya darimana, pasti kita kan merasa bodoh. Tak kan berani mengaku pintar.
Yang sering menjadi kecelakaan bagi kita ialah, karna kita berbicara hakikat kepada orang yang tidak tepat. Tentu ini kan bertentangan dan akan menjadi fitnah.
Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual kita, pasti lah semakin dalam makna kata dan bahasa, tidak mungkin semua orang kan mengerti. Jadi, jangan lah di pukul rata.. tentu tidak semua orang kan mengerti. Justru itu sangat berbahaya jika orang awam jadi salah tafsir dan pengertian. Kita jadi menyesatkan orang lain tanpa kita sadari.
Jadi, mari kita intropeksi diri..
Jika tulisan dan penyampaian kita sering di tentang oleh orang lain, bisa jadi karna beberapa penyebab..! Jika karna mereka tak mengerti.. atau juga karna kita menyampaikan itu tanggung-tanggung, tak mau menjelaskan sampai mereka memahami.
Jika kesadaran kita makin tinggi.. ya bijak-bijak lah dalam penyampaian, jangan pakai bahasa tinggi..!
APAKAH SEMUA ILMU HARUS ADA SANAD NYA..?
APAKAH SEMUA ILMU HARUS ADA SANAD NYA..?
"Maaf bang... saya pun pernah menyebarkan Ilmu ini karna Ilmu lni adalah Ilmu tingkat tinggi...di samping itu Ilmu ini pun tidak melanggar syariat bahkan Allah memerintahkan nya... namun di sebalik itu mempelajari ilmu lni harus mempunyai Guru yg Kamil mukamil yang sanad keguruannya sampai pada Rasulullah...!!! karna di khawatirkan Seseorang yang belajar tidak mempunyai Guru yang jelas Iblislah guru nya. Afwan 🙏"
Jawab,
Mantap.. tambah menarik nih.. ( bakar rokok dulu, sambil senyum-senyum ) hehe..
Jika anda mengamalkan suatu keilmuan yang bersanad hingga kepada Rasulullah.. Itu baik, itu bagus, berarti ilmu itu tidak di ragukan lagi kemurnian nya.
Tetapi jika ada orang yang menyebarkan ilmu Allah tanpa sanad yang jelas dan anda menganggap itu ajaran yang salah, ini sungguh suatu keegoan. Karna ilmu itu tidak jelas darimana, tiada sertifikasi, dan anda meragukan nya. Ini sungguh orang yang berpikiran sempit.
Dalam beragama jangan terlalu kaku bro.. ilmu Allah itu luas..! Sangat banyak ilmu yang tak di ajarkan Rasulullah, kita jumpai di saat ini.
Bagi saya tak penting bersanad atau tidak bersanad, yang penting itu adalah.. ilmu itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Rasulullah..!
Saya berikan sedikit gambaran..
Zaman dahulu Rasulullah naik unta, sedangkan zaman sekarang.. orang sudah naik sepeda motor, naik mobil, bahkan naik pesawat.. sehingga bisa menempuh perjalanan jauh dengan waktu yang singkat.
Perlu kah kita mengetahui darimana sanad sepeda motor, siapa yang menemukan sepeda motor, mobil, bahkan pesawat..?
Semua orang tidak perlu mencari tahu silsilah itu semua. Yang terpenting mereka mengetahui bahwa.. manfaat kenderaan-kenderaan itu pasti lebih cepat daripada naik unta.
Begitu pula dalam berdzikir nafas, saya tidak perlu tahu darimana silsilah dzikir nafas yang saya amalkan ini.. yang terpenting, saya merasakan manfaat yang sangat besar dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Apakah orang-orang yang belajar dengan guru yang bersanad, maka akan terjamin menjadi hamba yang benar-benar lurus? Belum tentu mas bro! Jangan terlalu cepat berbangga diri.
Jika anda belum mengetahui jalan yang saya tempuh, jangan berkomentar begini-begitu. Coba lah dulu baru anda mengetahui!
Memang benar, semua orang pasti butuh guru. Agar ada tempat bertanya, ada yang membimbing, dan memberi petunjuk arah. Jika tiada guru, pastilah kita penuh kebingungan. Dan di sini rawan godaan iblis. Ini masuk akal bagi saya dan saya bisa menerima.
Tetapi jika tidak bersanad dan anda menganggap itu iblis, ini sungguh saya tidak bisa menerima. Mendidih di dalam dada..
Berhentilah menakut-nakuti umat..
Jika anda bersanad, tempuh lah jalan itu sungguh-sungguh..!
Tiada hak anda menghakimi jalan yang ku tempuh!
"Maaf bang... saya pun pernah menyebarkan Ilmu ini karna Ilmu lni adalah Ilmu tingkat tinggi...di samping itu Ilmu ini pun tidak melanggar syariat bahkan Allah memerintahkan nya... namun di sebalik itu mempelajari ilmu lni harus mempunyai Guru yg Kamil mukamil yang sanad keguruannya sampai pada Rasulullah...!!! karna di khawatirkan Seseorang yang belajar tidak mempunyai Guru yang jelas Iblislah guru nya. Afwan 🙏"
Jawab,
Mantap.. tambah menarik nih.. ( bakar rokok dulu, sambil senyum-senyum ) hehe..
Jika anda mengamalkan suatu keilmuan yang bersanad hingga kepada Rasulullah.. Itu baik, itu bagus, berarti ilmu itu tidak di ragukan lagi kemurnian nya.
Tetapi jika ada orang yang menyebarkan ilmu Allah tanpa sanad yang jelas dan anda menganggap itu ajaran yang salah, ini sungguh suatu keegoan. Karna ilmu itu tidak jelas darimana, tiada sertifikasi, dan anda meragukan nya. Ini sungguh orang yang berpikiran sempit.
Dalam beragama jangan terlalu kaku bro.. ilmu Allah itu luas..! Sangat banyak ilmu yang tak di ajarkan Rasulullah, kita jumpai di saat ini.
Bagi saya tak penting bersanad atau tidak bersanad, yang penting itu adalah.. ilmu itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Rasulullah..!
Saya berikan sedikit gambaran..
Zaman dahulu Rasulullah naik unta, sedangkan zaman sekarang.. orang sudah naik sepeda motor, naik mobil, bahkan naik pesawat.. sehingga bisa menempuh perjalanan jauh dengan waktu yang singkat.
Perlu kah kita mengetahui darimana sanad sepeda motor, siapa yang menemukan sepeda motor, mobil, bahkan pesawat..?
Semua orang tidak perlu mencari tahu silsilah itu semua. Yang terpenting mereka mengetahui bahwa.. manfaat kenderaan-kenderaan itu pasti lebih cepat daripada naik unta.
Begitu pula dalam berdzikir nafas, saya tidak perlu tahu darimana silsilah dzikir nafas yang saya amalkan ini.. yang terpenting, saya merasakan manfaat yang sangat besar dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Apakah orang-orang yang belajar dengan guru yang bersanad, maka akan terjamin menjadi hamba yang benar-benar lurus? Belum tentu mas bro! Jangan terlalu cepat berbangga diri.
Jika anda belum mengetahui jalan yang saya tempuh, jangan berkomentar begini-begitu. Coba lah dulu baru anda mengetahui!
Memang benar, semua orang pasti butuh guru. Agar ada tempat bertanya, ada yang membimbing, dan memberi petunjuk arah. Jika tiada guru, pastilah kita penuh kebingungan. Dan di sini rawan godaan iblis. Ini masuk akal bagi saya dan saya bisa menerima.
Tetapi jika tidak bersanad dan anda menganggap itu iblis, ini sungguh saya tidak bisa menerima. Mendidih di dalam dada..
Berhentilah menakut-nakuti umat..
Jika anda bersanad, tempuh lah jalan itu sungguh-sungguh..!
Tiada hak anda menghakimi jalan yang ku tempuh!
TIADA GURU, TIADA MURID
TIADA GURU, TIADA MURID
Jika anda melihat photo ini yang saya ambil dari film walisongo.. apakah yang dapat anda pelajari?
Dari photo ini benar-benar mengambarkan bahwa begitu lebur nya keakuan para wali-wali. tiada guru, tiada murid, Tetapi mereka duduk bersama. Bermusyawarah memikirkan umat.
Setiap orang boleh berpendapat, untuk mencapai mufakat. Setiap orang berhak menyuarakan isi hati nya. Tiada senior, tiada junior.
Mengapa Rasulullah tidak pernah menganggap orang yang belajar kepada nya itu sebagai murid? Tetapi justru ia menganggap sebagai sahabat. Karna lebur nya keakuan Rasulullah kepada umat.
Akhlak para Nabi dan para wali ini seharusnya benar-benar kita contoh. Jangan pernah mengaku senior, jangan pernah mengaku guru.. sehingga kita ego harus di ikuti segala omongan nya.
Jika seorang guru tak dapat duduk bersama seperti ini, merasa tinggi karna merasa lebih mengerti.. itu adalah keegoan..!
Tanpa Sadar, ia telah menjadikan diri nya berhala. Sadar lah wahai para guru, tanpa murid engkau bukan siapa-siapa..! Jangan pernah merasa tinggi..
Rendahkan diri mu, mari kita duduk bersama..
Jika anda melihat photo ini yang saya ambil dari film walisongo.. apakah yang dapat anda pelajari?
Dari photo ini benar-benar mengambarkan bahwa begitu lebur nya keakuan para wali-wali. tiada guru, tiada murid, Tetapi mereka duduk bersama. Bermusyawarah memikirkan umat.
Setiap orang boleh berpendapat, untuk mencapai mufakat. Setiap orang berhak menyuarakan isi hati nya. Tiada senior, tiada junior.
Mengapa Rasulullah tidak pernah menganggap orang yang belajar kepada nya itu sebagai murid? Tetapi justru ia menganggap sebagai sahabat. Karna lebur nya keakuan Rasulullah kepada umat.
Akhlak para Nabi dan para wali ini seharusnya benar-benar kita contoh. Jangan pernah mengaku senior, jangan pernah mengaku guru.. sehingga kita ego harus di ikuti segala omongan nya.
Jika seorang guru tak dapat duduk bersama seperti ini, merasa tinggi karna merasa lebih mengerti.. itu adalah keegoan..!
Tanpa Sadar, ia telah menjadikan diri nya berhala. Sadar lah wahai para guru, tanpa murid engkau bukan siapa-siapa..! Jangan pernah merasa tinggi..
Rendahkan diri mu, mari kita duduk bersama..
Langganan:
Postingan (Atom)
