Kamis, 15 Februari 2018

DZIKIR YANG SESUNGGUHNYA

DZIKIR YANG SESUNGGUHNYA

Adik saya bertanya, ternyata ia memperhatikan perjalanan hidup saya. 

" Bang, aku perhatikan.. mengapa abang sudah jarang duduk berdzikir seperti dahulu.. apa dzikir nafas itu sudah tidak abang amalkan lagi?"

Begini wan, dahulu abang rajin berdzikir setiap hari duduk berjam-jam itu adalah penginstallan bagi diri.. agar kesadaran jiwa abang aktif.

Setelah jiwa aktif, hidup (Sadar), dan bisa menyadari Allah setiap saat. Maka dzikir abang bukan lagi sebatas dzikir sebutan, tetapi lebih kepada setiap gerak hidup ini.

Di saat duduk, berdiri, dan berbaring.. abang selalu berdzikir.. baik di sebut mau pun tanpa menyebut nama Nya. itu lah dzikir yang sesungguhnya..

Si Iwan langsung tertawa dan mengejek, " Hebat sekali kamu bang? pakai istilah sudah terinstaall segala.. jadi tak perlu lagi la ya dzikir dengan menyebut?" ia pun makin kencang  tertawa nya.

Bukan tak perlu wan, memang dzikir yang sebanyak-banyak nya itu bukan seberapa banyak sebutan, tetapi seberapa banyak kesadaran kita ini ke Allah? Itu lah yang sesungguhnya dzikir.

Dahulu abang rajin dzikir duduk itu, ya sebagai penginstallan. Seperti sunan kalijaga( wali songo).. tak mungkin ia semedi selama nya. Pasti ia kembali normal dalam kehidupan. Begitu juga Rasulullah.. ngapain saja Rasulullah di gua hira? Mana mungkin ia Uzlah selama nya. Tetap ia normal dalam kehidupan.

Jadi, yang di katakan semedi, bertapa, berdzikir, uzlah.. ya sama saja. Itu hanya tirakat untuk mengaktifkan kesadaran akan Tuhan. Berhubung dengan yang maha kuasa.

Jadi, mengapa abang sudah jarang dzikir nafas duduk seperti dahulu? Itu karna sudah ter install. Dzikir nya sekarang ya di setiap gerak kehidupan.

Ucapan dzikir..
Perbuatan dzikir..
Di dalam hati dzikir..

Itulah dzikir yang sebanyak-banyak nya wan..

Tak mungkin kita bisa mencapai itu jika tiada tirakat/penginstallan diri..
Semua itu tidak instant.. butuh tirakat/laku yang sangat keras.

Tetapi jika sudah ter install hidup pasti enak, Allah selalu bersama kita. Tiada kita merasa sendiri dan selalu ada tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ibadah kita, bukan lagi ibadah kosong, tetapi setiap gerak itu sudah dzikir. 

Ya percuma juga di jelasin wan..
Kamu hanya terpaku kepada syariat, syariat dan syariat.. wilayah hakikat tak pernah kau sentuh.. 

Nanti suatu saat.. kamu pasti memahami..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar